Dalam masyarakat, peran seluler boleh dikatakan telah menempati posisi strategis dan menyangkut organ-organ vital kemasyarakatan, dimana seluler telah menjadi urat nadi yang tidak bisa lepas dari kehidupan mereka sehari-hari. Berbagai peran mampu dijalankan dengan baik oleh seluler, sebagai media pererat hubungan misalnya, seluler telah terbukti mampu memberikan kontribusi yang cukup besar dalam masyarakat, dimana alat ini berfungsi untuk mempererat hubungan antar individu yang berjauhan tempat maupun bertetangga, seluler juga berperan sebagai media perubahan yang cukup efektif, dimana seluler telah berhasil meningkatkan taraf hidup dan ekonomi pada masyarakat transmigran. Belum lagi pada bidang-bidang lain, mulai dari bidang yang terkecil sampai yang terbesar, dari masalah ”gaul” sampai ekonomi dan sosial, dari masalah kesehatan sampai kriminal, seluler telah terbukti mampu memberikan kontribusi yang cukup besar bagi masyarakat.
Lingkungan yang menjadi tempat dimana seseorang bisa me-ekspresi-kan jiwa dan menjalani hari-harinya telah berperan basar dalam membentuk pikiran dan anggapan seseorang tentang seluler, lingkungan yang ada sekarang ini adalah lingkungan yang telah dirasuki dan dijiwai oleh teknologi khususnya teknologi seluler, dengan segala macam bentuk fasilitas dan fitur canggihnya seluler telah membuktikan bahwa dia mampu membawakan peranannya dalam masyarakat, lingkungan yang demikian ini berpotensi menimbulkan salah pengertian dari masyarakat, bahwa seluler adalah kebutuhan pertama dan utama dalam pergaulan dan bermasyarakat, disamping keahlian bersosialisasi. Memang adanya seluler telah banyak membantu manusia dalam berkomunikasi, namun dampak yang ditimbulkan oleh seluler juga menjadi momok dalam masyarakat. Terlebih lagi jika dalam penggunaannya melanggar dan menyalahi aturan-aturan dan norma-norma yang ada, maka seluler dapat berubah menjadi monster ganas pembawa kerusakan moral maupun akhlak.
Akibat yang ditimbulkan oleh benda kecil ini, senyatanya telah mempengaruhi hampir disetiap aspek kehidupan dan telah membawa dampak yang cukup besar dalam masyarakat, seperti perubahan perilaku sosial pada masyarakat dan timbulnya berbagai macam kejadian yang merupakan dampak dari seluler, hampir disemua lini dan aspek telah ditemukan adanya indikasi dari kesalahpahaman dan penyalahgunaan seluler. Kegandrungan secara buta pada masyarakat terhadap alat komunikasi ini telah memicu berbagai tindak kriminal, diantaranya adalah maraknya kasus penyelundupan, pencurian, perampokan dan kejahatan lain yang yang tentunya membawa dampak dan akibat yang buruk. Namun diantara beragam hal yang ditimbulkan oleh ketidakbijaksanaan penggunaan seluler, yang paling menakutkan adalah rusaknya moral dan akhlak generasi muda, apalagi apalagi dalam pergaulan yang terbawa arus ”gensi” dan melegalkan segala bentuk perbuatan perusak moral seperti video porno.
Penyebab seluler dapat menggambil peran besar dalam masyarakat adalah karena minat masyarakat yang begitu besar terhadap benda ini, embel-embel fasilitas dengan berbagai kecanggihan yang ditawarkan oleh seluler telah merangsang minat beli masyarakat untuk membeli barang tersebut. Faktor interen yang mendorong seseorang dalam memiliki seluler adalah anggapan bahwa seluler adalah simbol dari ke-modern-nan dan modal pergaulan, anggapan ini memicu masyarakat untuk memiliki seluler, walaupun ada sebagian orang yang kondisi sosial dan ekonominya tidak mendukung untuk itu. Budaya konsumtif yang ada pada masyarakat juga merupakan faktor pendukung utama dalam memunculkan peran seluler yang begitu besar pada masyarakat, kepemilikan seluler pada masyarakat juga selalu merasa adalah salah satu sikap yang mendorong melesatnya kepemilikan ponsel.
Kebutuhan komunikasi merupakan sesuatu yang lazim bagi manusia dan kehadiran teknologi seluler adalah salah satu bentuk ciptaan yang sengaja dibuat sebagai pendukung dalam proses komunikasi. Namun keberadaan alat komunikasi tersebut hendaknya tidak membuat lupa akan hal-hal yang patut diprioritaskan, diakui atau tidak keberadaan seluler telah banyak membawa perubahan dalam masyarakat, dengan berbagai keuntungan dan kerugian yang dibawa oleh seluler, sudah selayaknya kita menimbang dan memperhitungkan penggunaan seluler dengan segala untung-ruginya.

budaya Indonesia

Januari 5, 2008

            Setelah membaca tulisan yang berjudul tentang “Sejarah Kebudayaan Indonesia Masuk Globalisasi Umat Manusia”, saya bisa menggatakan bahwa dalam perjalanannya, bangsa Indonesia telah menggalami banyak pertemuan dengan budaya asing yang menggakibatkan percampuran antara budaya asli bangsa ini dengan budaya asing tersebut. Sebagai akibat dari adanya percampuran budaya tersebut tentu saja banyak budaya-budaya baru yang muncul dan meliputi berbagai bidang dalam kehidupan masyarakat.

            Dalam pandangan sebagian golongan, ada yang menilai bahwa bangsa Indonesia dulunya merupakan bangsa yang tertinggal dari bangsa lain dalam hal kebudayaan dan disaat bangsa lain sudah menggenal apa yang dikatakan sebagai peradaban maju, bangsa ini masih berkutat dengan keprimitifan dan kebodohan.

Terlepas dari anggapan bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang tertinggal dari bangsa-bangsa maju dalam hal kebudayaan, ada hal positif yang boleh kita banggakan dari budaya bangsa Indonesia yang dianggap primitif dan merupakan budaya pertama yang dipunyai oleh bangsa ini, yaitu adanya sikap mental untuk bisa merasakan penderitaan orang lain disekitar dan rasa kekeluargaan yang sangat erat, sehingga hal ini mewujudkan budaya sikap kerjasama dan gotong royong, walaupun sikap tadi timbul dari rasa kekeluargaan dan kedaerahan yang berlebihan dan dipicu oleh adanya persaingan antar golongan untuk lebih memperkuat kekuasaan, namun itu merupakan suatu hal yang patut kita banggakan sebagai hal positif dari suatu kebudayaan primitif. 

Satu hal lagi yang boleh kita banggakan dari budaya asli kita, yaitu bersahaja yang dalam artian kesamaan derajat, sehingga kalau saja kita memegang teguh apa yang menjadi ciri dari budaya asli Indonesia maka yang terjadi adalah ras saling menghargai dan saling menjaga. Yang membedakan disini hanya usia dan kedudukan, pembedaan ini dapat diterima karena yang menjadi titik tolak suatu penghormatan adalah suatu hal yang alamiah, tentu hal ini berbeda dengan pembedaan yang didasarkan pada kekuasaan ataupun kekayaan yang sekarang masih banyak berlaku dalam masyarakat kita.

Meskipun dalam perjalanannya masyarakat Indonesia menggalami banyak pertemuan dengan kebudayaan yang berasal dari bangsa lain, sehingga menyebabkan terjadinya proses akulturasi atau percampuran antara budaya lokal dengan budaya asing, namun hal itu tidak dapat melenyapkan budaya asli yang dimiliki oleh bangsa ini, semangat gotong-royong dan kerjasama yang merupakan sisi baik dari kebudayaan asli Indonesia tetap ada, baik itu secara langsung maupun tidak langsung.

Percampuran budaya ini terjadi dikarenakan pada zaman dulu masyarakat kita telah menggenal dan melakukan kegiatan perdagangan dengan bangsa lain, sebut saja bangsa India, Portugis dan Spanyol. Kemudian masing-masing mereka pasti membawa budaya dari tempat asalnya, maka terjadinya proses akulturasi budaya merupakan suatu proses yang alami apabila terjadi suatu hubungan atau pertemuan antar manusia.  

Berangkat dari budaya lokal diatas, ketika penggaruh India masuk melalui perdagangan, masyarakat Indonesia yang telah mempunyai budaya sendiri pun tidak serta merta menerima budaya tersebut, tetapi lebih dahulu melalui preses percampuran yang melibatkan budaya lokal dan budaya asing. Proses ini mengakibatkan adanya perbedaan antara kebudayaan yang ada pada daerah asal budaya tersebut dengan budaya yang ada di Indonesia. Seperti agama hindu yang dibawa oleh bangsa India, pada tempat asalnya agama hindu menggenal sistem kasta dan sistem ini berlaku dengan sangat keras, dimana terdapat perbedaan yang sangat mencolok antara hak kaum sudra dengan hak kaum brahmana, ksatria ataupun waisya.

Datangnya pedagang dari India dengan membawa pengaruh agama hindu, tidak dapat dipungkiri adalah sebagai pembuka jalan pikiran bangsa Indonesia untuk lebih menggenal budaya bangsa lain yang lebih maju. Tapi dengan adanya sistem kasta yang dibawa, adalah merupakan bibit dari adanya feodalisme dalam masyarakat Indonesia yang terus bertahan sampai sekarang, walaupun sudah agak mendingan jika dibandingkan dengan zaman dahulu, dimana sistem ini berkembang dengan subur.

Meskipun masyarakat Indonesia tidak luput dari pengaruh tersebut, tapi sistem kasta yang ada berbeda dengan sistem kasta yang ada di India, di Indonesia sistem kasta yang ada diberlakukan dengan lebih lembut dan lebih menghargai kaum terendah (sudra), hal ini juga dikarenakan adanya peranan kebudayaan lokal yaitu budaya untuk menghargai sesama yang telah mengakar kuat dalam sendi-sendi kehidupan bangsa Indonesia, kelokalan itulah yang nampaknya berhasil meminimalisir dampak dari adanya sistem kasta.

Percampuran kebudayaan juga terjadi pada budaya Arab Islam yang juga dibawa oleh pedagang dari India, meskipun dalam budaya yang dibawa tidak terdapat sistem kasta yang nanti dalam perkembangannya menjadi sistem feodal, tapi oleh karena sistem feodal ini sudah mengakar kuat, maka yang terjadi adalah pemisahan dan pemecahan masyarakat menjadi beberapa kelompok, antara kelompok bangsawan yang dalam hal ini adalah para raja atau sultan dengan para rakyat jelata, padahal dalam islam sendiri tidak pernah ditemui ada ajaran yang memuat tentang pengelompokan manusia atas dasar kekuasaan.

Feodalisme yang telah mengakar dalam budaya masyarakat Indonesia adalah  merupakan satu bentuk pengklasifikasian dan pemecahan terhadap masyarakat kita, meskipun itu bukan merupakan budaya asli yang timbul dari masyarakat kita dan hanya merupakan satu bentuk yang terwujud dari proses percampuran kebudayaan. Akan tetapi permasalahan yang ditimbulkan oleh hal tersebut sangat besar peranannya, jika kita melihat apa yang berlaku dimasyarakat hari ini sangat jelas tergambar suatu budaya yang jika boleh saya menyebutnya adalah suatu kejahatan terhadap keadilan, dimana masyarakat yang miskin masih dibebani dengan keharusan memberi penghormatan terhadap kelompok masyarakat yang lebih kaya, padahal masyarakat miskin nyatanya lebih berhak untuk memperoleh penghormatan dari yang kaya.

  Hal yang patut diperhatikan disini adalah bagaimana suatu proses akulturasi budaya yang terjadi dalam perjalanan bangsa ini menuju bangsa yang lebih maju. Memang segala sesuatu yang ada pasti punya sisi negatif dan sisi positif, namun ini adalah resiko yang harus diambil dalam perjuangan untuk mewujudkan kualitas hidup yang lebih baik.

Meskipun angka merah telah diberikan pada nilai sejarah kebudayaan Indonesia dalam kaca mata pengetahuan dan diklasifikasikan sebagai bangsa yang primitif, kita tidak perlu menolaknya sebaliknya kita patut sadar bahwa pada dasarnya tidak ada bangsa yang begitu lahir langsung dapat membuat kapal terbang atau apapun yang berbau teknologi mutakhir, tapi mereka juga berangkat dari keprimitifan dan keterbelakangan. Namun mereka terdorong untuk mampu bangkit dari keprimitifan dan keterbelakangannya sehingga dapat menciptakan kualitas hidup yang lebih baik. Sekarang tinggal kita, apakah mau dan mampu bangkit dari segala ketertinggalan kita ataukah hanya diam dan merenung sambil menunggu datangnya malaikat yang membawa perubahan.

Bangsa melayu, yang dalam hal ini lebih merunjuk kepada bangsa Indonesia, dipandang rendah oleh sebagian golongan. Pandangan rendah itu diperoleh hampir dari semua segi, entah dari segi asal-mula datangnya manusia, kebudayaan, peradaban dan sistem pemikiran. Terlebih dari sudut budaya, mereka mengganggap bahwa dimasa lalu Indonesia tidak lebih dari bangsa primitif disaat bangsa barat telah menggenal apa yang dinamakan kebudayaan modern.

Namun seiring dengan perjalanannya, bangsa Indonesia secara berlahan tapi pasti mulai mengenal kebudayaan modern, hal ini tentunya tidak terlepas dari peranan adanya pertemuan dan percampuran dengan budaya lain. Sebut saja bangsa Belanda, salah satu bangsa yang telah menggenalkan pada bangsa ini pada apa yang disebut dengan kebudayaan modern.

Pada awalnya kedatangan bangsa Belanda ke Indonesia hanya untuk berdagang, namun setelah mengetahui bahwa bangsa ini merupakan bangsa yang kaya raya maka timbullah niat untuk menguasai dan mengeksploitasi semua yang ada dibumi nusantara. Penjajahan bangsa Belanda memang menyisakan duka yang sangat dalam dan menjadi lembaran suram dalam perjalanan bangsa ini, terlebih lagi bagi sebagian orang yang masih trauma akan keganasan penjajahan Belanda.

Tidak dapat diingkari bahwa kedatangan Belanda juga membawa berkah bagi bangsa ini, dimana terjadi pertukaran budaya antara budaya Indonesia dengan Belanda.

 

Desember 4, 2007

Pancasila yang menjadi dasar ideologi negara dan sebagai pemersatu bangsa Indonesia sudah tentu mempunyai peranan penting dalam perjalanan bangsa ini, pada hakikatnya keputusan tentang pancasila juga harus sudah final dan tidak perlu diperdebatkan lagi, namun pada era demokrasi seperti sekarang ini, dimana semua orang dapat dengan secara bebas dapat menyuarakan pendapatnya dan dengan ditambah dengan beragam permasalahan yang menimpa bangsa Indonesia maka muncullah isu-isu miring yang mempertanyakan mengenai keberadaan dan kemampuan Pancasila sebagai pandangan hidup dan dasar negara, padahal bila digali lebih mendalam sebenarnya dalam pancasila telah terkandung semua kebenaran radikal yang semua pihak telah mengakui dan menerima itu. Pada prinsip dan substansi Pancasila sangat bagus, ia sebagai alat perekat dan interaksi bangsa Indonesia yang plural. Namun mengapa bangsa Indonesia saat ini banyak ancaman disintegrasi, hal ini bukan dikarenakan Pancasila-nya yang salah, melainkan adanya penerapan yang tidak pas dalam penerapan Pancasila untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-harinya.

Dalam dunia perpolitikan Indonesia, Pancasila telah mengalami masa yang suram dimana dia hanya dipergunakan sebagai alat politik untuk melanggengkan kekuasan yaitu pada masa orde baru, hal itulah yang menyebabkan banyak partai politik yang berasaskan selain pancasila merasa resah dengan adanya rancangan tentang RUU partai politik yang menyertakan pembahasan asas tunggal pancasila dan seandainya saja bangsa Indonesia benar-benar meresapkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, tentunya degradasi moral, kebiadaban masyarakat dan perpecahan yang mengatasnamakan isu-isu SARA dapat diminimalisir.

Asas tunggal Pancasila yang dimaksudkan disini adalah satu asas tunggal dimana semua partai-partai yang berada di Indonesia harus menggunakan Pancasila sebagai dasar ideologi mereka, hal ini dapat diartikan bahwa partai-partai politik di Indonesia yang menggunakan asas selain pancasila harus menganti ideologi mereka dengan ideologi Pancasila atau dengan kata lain partai yang menggunakan asas selain Pancasila harus ditiadadakan atau tidak diperbolehkan.

Rancangan ini tentu saja membuat partai-partai yang mempunyai asas selain Pancasila menjadi gerah, Mereka beranggapan bahwa dengan disahkannya rancangan ini maka dikuatirkan akan menghancurkan sistem demokrasi yang telah dibangun sekian lama, karenanya partai-partai yang mempunyai asas selain asas pancasila dengan tegas menolak keberadaan RUU tersebut.

Perdebatan sengit dan alot yang terjadi dalam pembahasan RUU Partai Politik mengenai asas tunggal Pancasila antara kelompok yang setuju dan kelompok yang menolak adalah hal yang biasa, karena kita sadari bahwa bangsa ini adalah merupakan bangsa majemuk yang terdiri dari bermacam-macam budaya, suku, adat dan agama, yang pastinya dengan segala perbedaan tersebut akan timbul suatu pemikiran yang berbeda pula. Hal ini yang menyebabkan sejumlah fraksi yang ada dalam Panitia Khusus RUU Parpol berbeda pendapat mengenai keberadaan asas Pancasila ini.

Dalam RUU Parpol Usul Pemerintah, rumusan yang diusulkan: “Asas parpol tidak boleh bertentangan dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.” Rumusan ini sama dengan yang tertuang dalam UU Parpol Nomor 31 Tahun 2002. Sementara tiga fraksi, yaitu F-Partai Golkar, F-Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, dan F-Partai Demokrat mengusulkan lain. Rumusannya menjadi: “Asas partai politik adalah Pancasila dan UUD 1945″ atau “Parpol berasaskan Pancasila dan UUD 1945.” Adapun fraksi yang mendukung usulan pemerintah tersebut yaitu F-Partai Persatuan Pembangunan, F-Partai Amanat Nasional, F-Kebangkitan Bangsa, F-Partai Keadilan Sejahtera, F-Bintang Pelopor Demokrasi, F-Partai Bintang Reformasi, dan F-Partai Damai Sejahtera.

Panitia khusus (pansus) RUU parpol yang telah dibentuk, merupakan bukti bahwa betapa gawat dan krusialnya masalah ini. Namun meskipun telah ada pansus yang bertugas menggodok RUU ini, tetap saja belum bisa menghasilkan keputusan yang bisa membuat semua pihak dapat bernafas lega, hal itu dikarenakan pendapat antar fraksi yang berbeda-beda yang masing-masing pendapat juga disertai argumentasi yang pastinya berbeda pula.

. Dari pihak pemerintah sendiri pun sudah meminta agar semua pihak dapat berpikir jernih untuk kepentingan bersama dan berharap agar sesuatu yang sudah menjadi perekat, membawa iklim yang kondusif bagi bangsa dan negara ini bisa dipertahankan, hal ini patut dilakukan menginggat pemerintah merupakan pelaksana dan penanggung jawab dari apapun yang terjadi dalam negeri ini.

Rancangan paket RUU Bidang Politik yang digodok di DPR terus menuai protes dari kelompok yang merasa keberadaan partainya akan hancur bila asas tunggal Pancasila yang sedang dalam proses dapat disahkan, namun ada juga fraksi yang mendukung asas tunggal tersebut bahkan mereka mengusulkan bahwa aturan bahwa partai politik harus berasaskan Pancasila, dengan alasan jika asas partai politik yang digunakan masih bukan asas Pancasila, dikhawatirkan penerjemahan visi, misi politik yang diembannya akan menjadi bias.

Diantaranya ada f-PDIP dengan mengusulan adanya asas tunggal dengan pemahaman bahwa dasar negara adalah Pancasila, sehingga diharapkan dasar semua parpol pun juga sama, yakni berasaskan Pancasila. Sebagai contoh, ketika parpol menggunakan asas Islam, maka ketika menjadi kepala daerah seringkali lahir peraturan daerah yang bernuansa syariat. Namun, PDIP menolak kalau langkah mereka diartikan sebagai upaya kembali ke asas tunggal seperti masa Orde Baru, karena, asas Pancasila diberlakukan pada semua parpol, tapi ciri khas setiap parpol dipersilakan memilih sendiri.

Selain Fraksi PDIP, Fraksi Partai Golkar, dan Fraksi Partai Demokrat juga mengusulkan adanya penyeragaman asas partai politik tersebut. Dalam Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) RUU Partai Politik yang diusulkan Fraksi Partai Golkar pada Pasal 67 disebutkan asas partai politik adalah Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945.

Menurut Fraksi Partai Golkar, asas partai politik adalah Pancasila untuk mempertegas komitmen terhadap ideologi bangsa dan negara. Di samping itu, juga untuk memperkokoh pilar-pilar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang sudah mulai pudar.Dalam draf RUU Parpol yang diusulkan Partai Golkar pada Pasal 6 ayat 2 disebutkan partai politik dapat mencantumkan ciri tertentu yang mencerminkan kehendak dan cita-cita partai yang tidak bertentangan dengan Pancasila, UUD 1945 dan undang-undang.

Argumen yang dilontarkan kelompok pendukung adanya asas tunggal diatas, dinilai oleh kelompok yang menolak asas tunggal hanya sebuah wacana yang bertujuan untuk dijadikan pembenaran rezim Orde Baru ketika “memaksakan” penunggalan asas Pancasila kepada seluruh orpol dan ormas pada pertengahan 1985, 22 tahun silam. Denagan mengatakan bahwa dengan satu asas -asas Pancasila- akan dapat lahir tertib politik. Memperkecil peluang pertikaian ideologi. Dengan demikian, wacana pembangunan politik tidak lagi diributkan oleh dasar moral politiknya, melainkan langsung ke arah praktis dan pragmatis. Langsung ke kerja-kerja pembangunan riil.

Dengan kata lain, wacana penunggalan asas -asas Pancasila adalah pengembalian ke masa lalu yang mengajarkan praktik-praktik politik yang antidemokrasi, sedangkan saat ini yang diperlukan ialah kemauan dan kebersamaan untuk memlaksanakan aturan yang telah disepakati bersama untuk menjaga atau melindungi keragaman asas bagi parpol atau ormas apa pun di negeri ini. Untuk itu tidak diperlukan adanya upaya-upaya yang secara sengaja justru merusak keragaman dasar pemikiran dan dasar moral berpolitik. Yang diperlukan ialah aturan main demokrasi bahwa keragaman platform politik adalah keniscayaan dalam bangsa yang amat mejemuk seperti Indonesia.
            Hal itu ditanggapi oleh PDI-P dengan mengungkapkan bahwa mereka juga tidak setuju dengan asas tunggal yang pada masa Orde Baru yang telah membelenggu kebebasan dalam berbangsa. Menurut PDI-P sebenarnya meraka tidak pernah risau tentang asas yang akan dipakai partai politik. PDI-P ingin mendudukkan persoalan asas ini dalam tataran nasional yang bisa diformulasikan secara tegas dalam kehidupan berbangsa, walaupun sudah ada penjelasan dari pihak yang mendukung dengan menggatakan bahwa yang dimaksud asas tunggal Pancasila disini adalah bukan seperti asas tunggal pada masa orba dimana keragaman bangsa yang seharusnya menjadi kekuatan dan ciri khas bangsa ini diberanggus oleh adanya satu asas yang hanya ditunggangi oleh kepentingan pribadi untuk melanggengkan kekuasaan.  . Sementara itu fraksi-Golkar juga menggatakan bahwa penerapan Pancasila sebagai asas parpol jangan dilihat dalam perspektif Orde Baru yang menyeragamkan Pancasila sebagai asas tunggal partai politik. Harus dibedakan di mana Pancasila sebagai asas bersama dan sebagai asas tunggal partai. Pancasila sebagai ideologi bangsa tidak lagi menjadi masalah, tapi Pancasila tetap memberi ruang bagi ideologi lain. Menurut mereka, dalam soal Pancasila, Partai Golkar tidak menutup adanya ideologi parpol lain, asalkan tidak bertentangan dengan Pancasila. Pancasila sebagai asas bersama jangan sampai menjadikan sistem otoriter. Persoalannya adalah bagaimana memosisikan Pancasila sebagai platform bersama yang memang berbeda dengan ideologi politik.

Kemudian mereka menambahkan bahwa asas partai politik adalah Pancasila untuk mempertegas komitmen terhadap ideologi bangsa dan negara. Pancasila juga diperlukan sebagai asas partai untuk memperkokoh pilar-pilar NKRI yang saat ini sudah memulai memudar.

Sebenarnya perdebatan tentang asas tunggal Pancasila dalam berpolitik sudah tidak diperlukan lagi, memang terjadi perseteruan diantara partai yang berasas pancasila dan berasaskan selain pancasila yang dalam hal ini adalah agama. Namun hal itu sebenarnya bukan merupakan suatu hal yang diperdebatkan,  bukankah sudah jelas bahwa dalam pancasila pada sila pertama yang berbunyi “ketuhanan yang maha esa” adalah merupakan bukti bahwa sebenarnya pancasila sendiri tidak bersebrangan dengan agama.

Jadi sudah jelas bahwa meskipun asas yang digunakan dalam politik adalah asas tunggal pancasila namun agama juga masih bisa digunakan. Atau bila saja RUU ini gagal disahkan, maka biarlah parpol bersaing dalam kompetisi politik, toh ! masyarakat atau para pemilih juga bisa menimbang untuk memilih partai mana yang sesuai dengan mereka, dan jikalau meraka mereka belum mengerti mereka patut diberi pendidikan politik berupa tawaran program politik. Setiap partai menawarkannya melalui platform politik dan ideologinya agar dipilih masyarakat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

asas filsafat

Desember 4, 2007

Asas yang berarti prinsip atau dasar merupakan hal penting dalam berfilsafat, karena segala sesuatu yang berlaku disini adalah bertujuan agar bisa mengantarkan orang yang mempelajarinya mencapai kebenaran dan kebijaksanaan.Adapun yang membedakan antara asas dengan pengantar filsafat adalah penjelasan asas yang lebih mendalam dan penjelasan pengantar yang meluas.Sebelum mulai berfilsafat kita perlu mempersiapkan hal-hal penting,beberapa diantaranya adalah tidak tergesa-gesa,tenang dan berpikir secara rapi dan terlatih.

            Filsafat secara etimologi dapat diartikan sebagai“teman kebijaksanaan atau mencintai sifat bijaksana”,sedangkan secara terminologi dapat diartikan sebagai suatu sikap,metode,kelompok masalah dan teori,analisis bahasa atau usaha untuk memperoleh pandangan secara menyeluruh.Filsafat sendiri timbul dari keheranan atau kekaguman (thaumasia) yang diikuti dengan pengajuan pertanyaan yang bersifat mendasar, namun ada juga yang mengatakan bahwa timbulnya filsafat dikarenakan keraguan manusia terhadap pernyataan kebenaran yamg mereka terima. 

            Setiap jenis pengetahuan pasti mempunyai objek material (sesuatu yang dijadikan sasaran pemikiran) dan objek formal (sudut pandang atau cara pengadaan tinjauan),begitu juga dengan filsafat yang mempunyai objek material dan formal, namun yang membedakan objek filsafat dengan ilmu lain adalah filsafat lebih bersifat meluas dan mendalam bila dibandingkan dengan ilmu lain.

            Persoalan filsafat mempunyai ciri-ciri yang berbeda dengan persoalan lainnya yaitu lebih bersifat umum,tidak semata-mata bersifat faktawi (melebihi fakta yang ada),

bersangkutan dengan arti dan nilai, bersifat sinoptik (objek dipahami dalam konteks keseluruhan), bersifat implikatif (memunculkan persoalan baru). Persoalan filsafat yang dimulai dari keheranan akan diikuti dengan pengajuan pertanyaan, beberapa bentuk pertanyaan kefilsafatan adalah apa (what), mengapa (why) yang mempunyai 3 arti yaitu sebab, tujuan dan struktural.Dalam pemecahan masalah-masalah filsafat terdapat rintangan atau kesalahan yang harus dihindari agar dapat mencapai sasaran sebagaimana yang diharapkan, diantaranya adalah adanya keterikatan manusia pada apapun yang dapat mempengaruhi dan menyesatkan pengetahuan sehari-hari atau pengetahuan akal sehat, dalam hal ini Francis bakon (1564-1626) memberikan contoh klasik tentang kesalahan berfikir yang disebutnya idola (idols), menurutnya ada 4 idola atau keterikatan yaitu :kesukuan (lingkungan), goa (kandang), pasar (kata dan nama yang digunakn sehari-hari) dan teater (keyakinan,ilmu,agama dll).

            Prinsip pemikiran menurut Aristoteles (384-322) ada 3 yaitu kesamaan (principium identitatis) , kontradiksi (principium contradictionis) dan tidak ada kemungkinan ketiga (principium exclusi tertii), sedangkan Gottfried Wilhelm von Leibniz (1646-1716) mengemukakan satu prinsip yaitu prinsip cukup alasan (principium rationis).

            Ciri berfikir secara kefilsafatan diantaranya adalah kritis(tidak menerima begitu saja terhadap konsep atau asumsi), radikal (mengakar sehingga sampai kepada hakikat, esensi dan substansi), rasional, konseptual (hsil dari generalisasi dan abstraksi dari pengalaman hal serta proses individual), koheren (berhubungan dengan suatu pengertian umum dan sesuai dengan hukum atau kaidah logika), konsisten (konsep atau bentuk uraian tidak menggandung kontradiksi), sistematik (berhubungan), komprehensif (men cakup keseluruhan), bebas, bertanggung jawab.

            Secara kodrati dalam diri manusia terkandung sikap keingintahuan terhadap sesutu yang berada disekelilingnya, untuk itu dia akan melakukan berbagai macam cara untuk memenuhi hasrat rasa keingintahuan tersebut dan bertujuan untuk memperoleh kebenaran, kemudian cara tersebut akan menentukan jenis pengetahuan atau menghasilkan jenis pengetahuan tertentu.Pada umumnya dibedakan beberapa jenis pengetahuan yaitu pengetahuan akal sehat (common  sense), pengetahuan cerapan indera (sense perception), pengetahuan dari orang, lembaga, institusi yang mempunyai kewenangan (authority) atau bisa juga dari gagasan yang didukung secara luas atau gagasan yang berkaitan dengan masa lampau, pengetahuan yang diperoleh lewat akal (reason), pengetahuan yang diperoleh secara langsung (intuition) yang menurut Immanuel kant dibedakan menjadi 2 yaitu instuisi pengalaman (menggunakan indera secara langsung) dan intuisi murni (intuisi yang strukturnya diberikan oleh intuisi empiris menjadi rangsang indera) dan yang terakhir adalah pengetahuan wahyu (revelation).

            Dalam mencapai atau memperoleh kebenaran akal akan melalui tahap-tahap atau keadaan yaitu tahap kurang tahu (akal tidak memiliki kebenaran), tahap ragu-ragu (akal berada pada kondisi seimbang antara penegasan dan pengingkaran), tahap pendapat (akal sudah dapat menegaskan tentang sesuatu hal, namun masih terdapat keraguan), kemudian tahap kepastian yang merupakan penegasan akal yang tetap terhadap kebenaran.

            Terhadap preses ini diperlukan adamya

demokrasi tai

November 16, 2007

Demokrasi, perjuangkan..!

Hak kaum miskin, penuhi..!

Reformasi, adakan..!

Revolusi, jalankan..!

 

Berucap kata sarat makna

Berbuat seolah olah

Berbuat tekad bulat

Berobat buat tobat

 

Tau gak….!

Demokrasi itu tai

Reformasi itu basa-basi

Revolusi itu nasi basi

 

Semua itu bohong

Kosong melompong

Kepompong sombong

Tong…tong…tong

 

Pasti

Hanya dolly

Bahagia

Hanya tuna susila

Tentram

Hanya temaram

Senang

Hanya warung remang 2

 

Pejabat bosan rakyat

Rakyat bosan pejabat

Rakyat dianggap pemberat

Pejabat dianggap penghianat

Bangsat….!!!

 

Jadi aktivis

Kembang-kempis

Nafas meringgis

Senin-kamis

Tapi…….?

Kalau dan bisa

Jadi lupa

Apa yang dulu dikata !

Tak perlu munafik

Tak usah menampik

Semua suka tempik

Pribadi ingin apik

 

Tahan……!!

Jangan dulu kata

Jangan dulu hina

Coba kalau kita

Ditempat yang sama

 

Keadilan hanya mimpi

Cuma dalam imajinasi

Keadilan kan terbukti

Jika pribadi berontak diri

 

Tak usah bawa agama

Tak usah salahkan budaya

Cerminkan manusia

Pada jiwa berkaca

 

Dikata tak kuasa

Ditulis tak gubris

Coba jalan beda

Mulakan kita

 

Separo waktu berjalan

Lupakan….!

Tatap depan

Perubahan

 

Suatu jalan

Hargai teman

Hargai alam

Hargai ragam

 

Yakin mungkin sering

Mantab tabiat hebat

Jangan pikir harkat

Teruslah bermartabat

 

Negara tak berdaya

Bangsa tak berupaya

Bagaimana bisa…?

Cipta bahagia

 

Mulai dari diri

Mula kan jiwa

November 16, 2007

 

kabar lebar tak kasar

rasuk menusuk rusuk

busuk sukma suka

karma mata tamat

pasti nanti hati

tiba tanah merah

rahasia hasil hamil

milik pelik delik

saat sama masa

tetap dekap rapat

walau lambat laun

hilang terbang bangka

 

semua tak nyata

hanya bayang hamba

semungkin terjadi

hanya harap mimpi

meski Cuma mimpi

ku rela tak kembali

meski dibumi ini

ragam suka hati

setubuh kita

harapan dada

tapi tak bisa

karna tlah pisah dunia

jalan berbeda

tujuan berbeda

tapi ku kan selalu setia

untuk wahyuku cinta……

 

siapa…..bisa…..?

mengobat gila

membangun hancur

membalut lebur

mengersang subur

mencabik baja

meracau hina

meratap rapat

melumat semat

mengatap tatap

mendedah nanah

membelah arah

memerah marah

menghalau galau

menyendu wahyu

menangis iris

mengisi basi

membangun kubang

mencinta tanpa

merindu wahyu


 

 

 

 

cinta

cin

bacin

tacin

ta

tai

 

jadi cinta itu tai bacin

 

 

 

 

 

 

 

 

 

hanya wahyu

bukan wajahmu

bukan rupamu

bukan dirimu

bukan jiwamu

bukan tubuhmu

bukan gerakmu

bukan senyummu

bukan caramu

bukan dadamu

bukan bibirmu

bukan pinggulmu

bukan bokongmu

bukan suaramu

bukan tingkahmu

hanya bayangmu

hanya namamu

buatku bertahan

buatku berjuang

WAHYU AYU MERAYU

November 16, 2007

WAHYU AYU MERAYU

 

 

 

Sahdu rindu wahyu pertahankan hidup

Berkias kipas kapas karna wahyu ada

Bayang sayang hilang meski dalam bayang

Kok….teronggok mogok bersolek dalam angan

Menggolok patok balok tungangi kesendirian

Habis manis sinis pacu kencang

Paras perah parah melewat padang panjang

Gambar gelar kelar tuju tanah lapang

Wahyu ayu merayu tempat temu pandang

Ternyata……!!

Muka kaca koma padang gersang

Dagu gugah gundah berawan hitam

Pipi sepi piker bermendung suram

Bibir birahi bias tiba-tiba

Dada dapat padat hujan luka menghujam

Perut urut lembut namun

Pusar gusar pasar tetap langkah maju

? ? ? walau hanya secarik baju

gak sopan ! tau ! tersisa didiri

tetap lanjut lari

tapi bukan itu demi abdi abadi

 

lain selain-lainnya sempurnanya

itulah dia berbalut luka

tubuh biasa kelebihannya

harta tak berpunya bertutup biasa

aneka makan luka dengannya

ragam rasa lara bersalut rimba

jiwa wahyu wanita tiadanya dia

berparas selaras kertas bersisa permata

berasa sama saja tawanya

ada beda didirinya sembunyikan luka

asa sangat sengat

 

wahyuku ratap ku hanya bisa

wahyuku tatap membayang dansa

wahyuku tetap mengingat rupa

wahyuku gelap memeluk hawa

wahyuku kalap anggap itu dia

KETIK A – KETIK

November 16, 2007

 

KETIK A - KETIK


 

 

Ketik - ketik a kertas

 

Ketik - ketik a kurang

 

Ketik - ketik a keras

 

Ketik - ketik a kumal

 

Ketik - ketik a Kurang ajar

 

 

Ketik a - ketik hilang

 

Ketik a - ketik terbang

 

Ketik a - ketik tendang

 

Ketik a - ketik senang

 

 

Tik - Tik - Tik - Tik - Tik -

 

Itik - Itik - Itik - Itik - Itik -

 

Tik - Tik <——–> Itik - Itik

 

Tik - Tik <——–> Itik - Itik

 

 

It - It - It - It

 

Eeeeeiiiiittttt !!!

 

It - It - It - It

 

Cit Cit Cit Cit

 

Cik Cik Cik Cik

 

 

Cok Cok Cok Cok

cipok

November 16, 2007

Pilpres jadi strees

Pilgub jadi gugup

Bencana

Tenang saja

Kelaparan

Tangani belakangan

Busung lapar

Wajar

Narkoba

Biasa..

Lalu………?

Awas pemilu!

Cepat tangap

Atasi gagap

Agar rakyat

Jadi terpikat

Agar rakyat

Tak anggap bangsat

Tak anggap keparat

Kursi dewan

Rebutan

Jabatan

Akhir tujuan

Rakyat melarat

Diperdebat

Miskin buruh

Siapa suruh

Mahal sekolah

Bukan masalah

Sembako naik

Bukan unik

Indonesiaku

Buruk nasibmu

Elok rupamu

Mulai layu

Sebab muasal

Tak tahu asal

Dikasi asih

Tak terima kasih

 

 

 

 

 

 

Sekeping logam

Selembar kertas

Sesunyi bunyi

Setinggi asas

Semangkok darah

Secangkir nanah

Sebatang rebah

Semuka merah

Sediri hilang

Sejiwa terbang

Seindah malang

Sebaik jalang

Sehelai suka

Seonggok luka

Setitik cinta

Sesarat derita

Sebongkah hati

Seharap kaki

Semakna asa

 

Seelok pipi

Segenggam duri

Semiskin hari

Sedinggin api

Sehampa jiwa

Sebuta mata

Seuntai kata

Sekedip nyawa

Semasa tunggu

Seotak dunggu

Setumpul pisau

Selancip risau

Selenting surga

Seharap binasa

Seramai kubur

Semuntah bubur

Sebayang kabur

Serisau dubur

Seindah mujur

Semasa libur

 

 

 

 

 

mata mu munt ah

November 12, 2007

sebutir ketenangan

sebatang artian

sebotol kepuasan

selinting kepastian

itulah kehidupan

digantung selakangan

semua bisa

hidup tanpa rasa

coba saja

gila lebih bermakna

dari pada berasa

berasa itu apa?

kucari makna

sejak masih alpa

hingga usia

termakan masa

rasa tak hadir

hanya mampir

itupun kuusir

tak ingin ku ada
berasa tak sempurna

kalaupun mampu

kulepas manusiaku

sebagai tumbal

untuk lebih handal